BBM Langka di Makassar, Antrean Mengular dan Pernyataan Lama Presiden Kembali Disorot
Makassar – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Makassar dan sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir memicu antrean panjang kendaraan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu perbincangan luas di media sosial. Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu terkait penggunaan kendaraan listrik kembali menjadi sorotan publik.
Pantauan di sejumlah titik SPBU di Makassar menunjukkan antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga ratusan meter. Warga tampak rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM. Bahkan, sebagian pengendara memilih datang sejak dini hari untuk menghindari antrean yang semakin panjang pada siang hingga malam hari.
Seorang warga Makassar, Andi (34), mengaku harus mengantre lebih dari dua jam untuk mengisi bahan bakar sepeda motornya. Ia menyebut kondisi ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi.
“Biasanya tidak sampai setengah jam. Sekarang bisa dua sampai tiga jam. Kalau tidak antre, ya tidak dapat BBM,” ujarnya.
Kelangkaan ini juga memicu munculnya penjual BBM eceran di sejumlah ruas jalan. Mereka menawarkan bahan bakar dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga resmi di SPBU. Fenomena ini menjadi alternatif bagi warga yang tidak ingin mengantre terlalu lama, meskipun harus membayar lebih mahal.
Di media sosial, berbagai unggahan mengenai antrean panjang dan kelangkaan BBM menjadi viral. Banyak pengguna mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar, sementara sebagian lainnya mempertanyakan distribusi dan ketersediaan stok BBM di wilayah tersebut.
Pernyataan Presiden Kembali Viral
Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 lalu kembali mencuat. Saat itu, dalam acara peluncuran motor listrik nasional di Cikarang, Presiden menyampaikan pandangannya terkait penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil.
Dalam pernyataannya, Presiden menyinggung masyarakat yang masih menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin agar “merasakan sendiri” dampak dari ketergantungan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya transisi menuju kendaraan listrik sebagai solusi jangka panjang.
“Jadi nanti kalau ada yang masih pakai motor bensin, ya rasain sendiri,” ujar Presiden saat itu, yang kini kembali dikutip dan diperbincangkan luas di berbagai platform digital.
Pernyataan tersebut kini dinilai sebagian masyarakat relevan dengan kondisi yang terjadi di Makassar. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritisi pernyataan tersebut karena dianggap belum mempertimbangkan kesiapan infrastruktur kendaraan listrik di berbagai daerah.
Dampak terhadap Aktivitas Masyarakat
Kelangkaan BBM yang terjadi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga sektor ekonomi secara luas. Pengemudi ojek online, misalnya, mengaku mengalami penurunan pendapatan karena waktu mereka banyak tersita untuk mengantre BBM.
“Kalau biasanya bisa dapat banyak order, sekarang banyak waktu habis di SPBU. Pendapatan jelas turun,” kata Rizal, seorang pengemudi ojek online.
Hal serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang menggunakan kendaraan bermotor. Keterlambatan pengiriman menjadi konsekuensi yang sulit dihindari, sehingga berdampak pada kepuasan pelanggan dan kelangsungan usaha.
Selain itu, masyarakat umum juga mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari berangkat kerja, mengantar anak ke sekolah, hingga memenuhi kebutuhan logistik rumah tangga.
Transisi Energi dan Tantangan di Lapangan
Sejumlah pengamat menilai bahwa kelangkaan BBM di Makassar menunjukkan masih tingginya ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil. Di sisi lain, transisi ke kendaraan listrik dinilai belum sepenuhnya siap, baik dari sisi infrastruktur maupun daya beli masyarakat.
Pengamat energi dari Universitas Hasanuddin, Rahmat Hidayat, mengatakan bahwa kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat diversifikasi energi. Namun, ia mengingatkan bahwa proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.
“Peralihan ke kendaraan listrik memang penting, tetapi harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur, seperti stasiun pengisian listrik umum (SPLU), serta harga kendaraan yang terjangkau,” katanya.
Menurutnya, tanpa dukungan yang memadai, masyarakat akan tetap bergantung pada BBM, sehingga setiap gangguan distribusi akan berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi dan sosial.
Pengamat transportasi juga menekankan bahwa kebijakan transisi energi harus dilakukan secara bertahap dan inklusif. Hal ini penting untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses teknologi kendaraan listrik tanpa menimbulkan kesenjangan baru.
Distribusi dan Ketersediaan BBM Dipertanyakan
Sementara itu, pihak terkait belum memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab pasti kelangkaan BBM di Makassar. Namun, sejumlah spekulasi yang beredar menyebutkan adanya kendala distribusi serta peningkatan konsumsi yang tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai sistem distribusi BBM, termasuk kesiapan pemerintah dan pihak terkait dalam mengantisipasi lonjakan permintaan atau gangguan pasokan.
Transparansi informasi dinilai menjadi kunci penting untuk meredam keresahan publik. Dengan adanya penjelasan yang jelas dan terbuka, masyarakat diharapkan dapat memahami situasi yang terjadi serta langkah-langkah yang sedang diambil untuk mengatasinya.
Harapan Masyarakat
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan BBM. Distribusi yang lancar dan ketersediaan stok menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas sehari-hari dapat kembali normal.
Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur kendaraan listrik juga diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang. Namun, upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Kelangkaan BBM di Makassar menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan hanya soal kebijakan jangka panjang, tetapi juga kesiapan menghadapi kondisi nyata di lapangan. Ketergantungan terhadap energi fosil masih menjadi tantangan besar yang harus diatasi secara bertahap dan terencana.
Hingga kini, antrean di sejumlah SPBU di Makassar masih terus terjadi. Warga berharap situasi segera membaik agar aktivitas ekonomi dan sosial dapat kembali berjalan normal tanpa harus dibayangi ketidakpastian ketersediaan bahan bakar.

Posting Komentar untuk "BBM Langka di Makassar, Antrean Mengular dan Pernyataan Lama Presiden Kembali Disorot"